Pembicaraan ruang, gerak dan waktu memiliki perspektif yang cukup luas. Di antara para filsuf pun memaknainya secara beragam. Di satu sisi, ada ilmuwan atau filsuf yang memaknai hakikat ruang, gerak dan waktu itu sebagai realitas riil, objektif. Namun di sisi lain, ada juga yang memaknai bahwa ruang dan waktu itu hanya ilusi. Pengertian tentang ruang bisa dijelaskan dengan tiga teori. Pertama, bahwa ruang adalah suatu realitas tersendiri, suatu jenis wadah di mana menjadi kan tempat bagi materi yang ada, sehalus apapun materi tersebut. Kedua, teori yang menyangkal bahwa ruang memiliki realitas tersendiri. Adalah suatu fakta jika benda dalam ruang adalah hasil dari pengaturan panca indera kita. Ruang adalah bentuk pengambilan realitas dari perspektif kita. Ketiga, teori yang menyatakan bahwa ruang merupakan realityas dari dimensi spacial, tetapi menyangkal ruang sebagai eksistensi bebas dan terpisah. Gerak, merupakan proses aktualisasi di mana letaknya berada di antara potensi dan tindakan. Gerak di sini memiliki peranan sebagai penghubung antara ruang dan waktu. Meskipun ruang dan waktu itu berbeda, namun keduanya saling berhubungan. Adapun waktu, merupakan sebuah kontinuitas yang terus-menerus dan tak terbatas. Sifatnya pun sangat subjektif, karena waktu manusia yang satu belum tentu benar bagi waktu manusia yang lainnya.
Ruang dan waktu bukan dua data yang benar-benar terpisah antara satu dengan yang lainnya. Namun, keduanya bersifat relatif, tergantung seseorang yang mengamati ssesuatu tersebut. Seperti halnya ruang, waktu pun tidak bisa dipisahkan dari gerak, karena gerak adalah hubungan antara ruang dan waktu. Waktu merupakan satuan yang berubah-ubah, satu sama lain tidak dapat diperbandingkan kecuali dengan memakai suatu dasar sistem yang dapat menjelaskan hubungan antara satu kejadian dengan kejadian yang lain. Tetapi hal ini tidak mungkin, karena transformasi yang tercepat di alam ini tidak sanggup membuat persamaan waktu di seluruh penjuru alam.
